Friday, February 12, 2010

Kisah Perjuangan Seorang Penambal Ban Menuju Baitullah

Lebih dari seperempat abad, Pak Hardi (54) menjalani profesi sebagai tukang tambal ban sepeda. Tak tampak keistimewaan dari bapak lima putra ini. Setiap hari ia mengenakan pakaian ‘kebesaran’ yang lusuh dan berlumur gemuk (oli). Peci hitam dan kacamata plus menjadi atribut khasnya. Jika sedang beruntung, biasanya Pak Hardi membawa pulang uang sekitar Rp 20 ribu – Rp 25 ribu dalam sehari. Sementara saat sepi, ia bisa pulang dengan tangan kosong, meskipun seharian membuka bengkel kecilnya, yang terletak di tepi jalan Wonosari (dekat stasiun Jogja TV), Jogjakarta.